Versi Teks Bleach Chapter 622

Versi Teks Bleach Chapter 622

Sebelumnya : Versi Teks Bleach Chapter 621
  

Versi Teks Bleach Chapter 622-The Agony

 

 Sage--mode.blogspot.com

 

Sang Iblis muncul dari dalam kegelapan. Musuh Soul Society itu terlihat dari balik tirai hitam, sosok kebencian para shinigami itu tersenyum dikala semua taichou dan fukutaichou menggertakkan gigi penuh emosi. Begitulah dia, Aizen Sousuke, Dewa Kematian yang penuh ketenangan dan perhitungan dalam setiap rencananya. Tubuhnya yang masih tersegel tam menghambat mulutnya untuk melontarkan kalimat remeh pada kawan lamanya itu.

"Cukup gunakan reiatsu kalian dan sapu bersih semua sekaligus. Mudah, 'kan?"

Aizen memberi contoh bak seorang guru yang mendikte anak didiknya. Sebuah penghinaan, tentu saja para shinigami yang berharga diri tinggi itu terhina. Namun, apa yang dikatakan Aizen benar adanya. Makhluk berbentuk mata dengan tangan dan kaki itu meletup menerima tekanan reiatsu Aizen. Aizen memperluas jangkauan reiatsunya hingga tidak ada lagi makhluk yang berteriak chi-chi-chi itu.

"Mustahil..." Mata Rukia membelalak seakan ingin keluar dari rongganya, segala kebenciannya berkumpul penjadi pandangan tajam ke arah Aizen. Giginya menggertak terlalu keras hingga tak tersengar lagi suara.

"Aizen!"
Sebaliknya, Aizen menyipitkan pandangannya, mulutnya tersenyum tipis memandang sang Juusanbantai Fukutaichou itu.

"Oh. Lama tak jumpa, Kuchiki Rukia." Sapa Aizen, ramah. "Tapi kita memang belum pernah mengobrol lagi sejak aku pergi dari Gotei 13-"

"-Yah, selamat atas kenaikan jabatanmu, baguslah mereka akhirnya mengakui jasamu."
Rukia semakin menggeram mendengar basa-basi Aizen.

"Kau-" Amarah Rukia semakin memuncak, dia masih ingat betul bagaimana hidupnya sebagai Dewa Kematian dipermainkan begitu saja oleh Aizen. "Kau seharusnya disegel-"

"-apa yang kau lakukan di sini?!"

"Mereka melepaskanku." Jawab Aizen santai.

"Omong kosong," Teriak Rukia. "Siapa yang..."

"-Aku." Sebuah suara memorong teriakan Rukia. Kyoraku berjalan mendekati keributan, pandangannya terlihat tenang dibandingkan para wajah fukutaichou.

"Kyoraku Taichou!" Hisagi, Ikaku, Rukia, Renji dan Yumichika berteriak hampir bersamaan pada Soutaichou mereka, seakan Kyouraku bukan lagi sosok terhormat bagi mereka.

"Aku yakin kalian pasti bertanya-tanya." Ucap Kyoraku tenang. "Tapi katakanlah kita butuh kekuatannya."

"Tapi...!" Rukia masih menggertakkan giginya.

"Anda ngomong apa, Kyouraku-taichou!?" Teriak Renji tak terima.

"Anda yakin ini ide bagus?!" Hiisagi juga tak terima.

"Aku gak bakal pernah setuju minta bantuan orang kayak dia!" Ikkakupun bernada serupa.

"Sama." Yumichika tak mau kalah. "Aku gak bisa melupakan apa yang dia perbuat pada kita."

"Tidak tahu malu!" Emosi Sui Feng juga memuncak.
Byakuya hanya terdiam, mencoba untuk membaca suasana.

"Dari tadi cuma ngomongin soal harga diri, 'kan?" Kyoraku mencoba menanggapi semua amarah mereka.

"Sekarang, mari bicara soal Gotei 13-"

"-Harga diri tak bisa menyelamatkan siapa pun."
Semuanya terdiam. Tak ada satupun diantara mereka yang melontarkan sepatah katapun untuk membantah Kyoraku. Sepertinya mereka mulai sadar, kekuatan mereka, bankai mereka, bahkan harga diri mereka berada dibawah dibandingkan keberadaan Aizen yang mereka laknat.

"Kita perlu melawan kejahatan dengan kejahatan lainnya." Imbuh Kyoraku. "Aku tak merasa sebagai orang jahat. Jadi siapa yang kita perlukan?"
Mereka hanya menggeram tapi mulut mereka terkunci untuk melontarkan kata. Apa yang dikatakan Kyoraku sama sekali tidak salah. Bagaimanapun, mereka harus menerima keputusan tegas dari Sang Soutaichou yang telah membuang harga dirinya demi Gotei 13.

"Pembicaraan sudah selesai ya." Suara Aizen memecah keheningan. "Kalau begitu bukannya sudah saatnya kau melepas segel di tanganku dan membiarkanku turun dari kursi ini?"

"Tak bisa." Jawab Kyoraku.

"Kenapa tidak?"

"Bukannya sudah kubilang aku cuma boleh melepas tiga segelmu." Jawab Kyoraku kembali. "Mulut, mata kiri, dan pergelangan kaki, selebihnya, tak bisa."

"Jadi maksudmu aku harus mengurus segalanya dari kursi ini?" Bujuk Aizen. "Astaga?"

"Aku yakin kau cukup kreatif buat mencari cara." Kyoraku tak berpancing ucapannya.

"Kau tahu aku tak punya kekuatan..." Aizen masih mencoba menyakinkan Kyoraku. "Menggampangkan sekali."

"Ini bukan soal punya kekuatan..." Jawab Kyoraku. "Aku lihat bagaimana bola mata kecil-kecil tadi hancur padahal kau masih duduk-"

"-Jadi jangan bilang kau belum melakukan apa pun."
Tiba-tiba, kegelapan kembali muncul dari langit, tirai hitam yang terbentuk dari makhluk hitam itu siap untuk menutup seluruh permukaan Seireite lagi.

"Lihat!" Teriak Rukia.

"Bah, bikin sulit saja." Aizen hanya menyungging.

"Terima kasih kembali?" sahut Kyoraku.
Namun, Kyoraku mulai merasakan pusaran reiatsu di dekitar Aizen semakin cepat, tekanan berkumpul di sekitar Aizen. Sang Soutaichou itu sadar, Aizen akan melakukan sesuatu.

"Minggir semuanya!" Teriak Kyoraku. "Kembali ke laboratorium!!"
Lelaki berhaori merah jambu itu langsung bershunpo, diikuto oleh para shinigami yang lain. DI luar hanya ada Aizen yang semakin memusatkan reiatsunya. Sebuah dinding hitam tercipta membungkus Aizen dan para monster kecil itu.

"Hadou 90, Kurohitsugi." Sebuah Mantra Iblis pecah begitu saja.
Dari dalam laboratorium mereka hanya bisa memandang langit yang tertutup oleh Mantra Penghancur itu.

"Kau paham, Kyouraku?" Byakuya yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. "Dengan kau membebaskan Aizen artinya kau menghina kami semua di sini."

"Aku tahu..." Jawab Kyoraku tegas. "Silakan hajar aku sepuasnya nanti-"

"-Tapi biarkan aku melindungi Seireitei sekarang."
Semua kembali terdiam mendengar keputusan tegas sang Soutaichou baru itu. Di luar Laboratorium, Mantra Iblis Aizen telah pecah. Tidak ada yang tersisa, para monster itu lenyap tanpa bekas. Langit Seireite kembali menderang seperti biasa. Hanya tersisa Aizen yang masih duduk manis di kursi tak empuknya.

"Dahsyat sekali..." Ucap Hisagi seakan tak percaya. "Gak ada sisa sedikit pun..."

"Dia melakukan Kurohitsugi tanpa mantra hingga sejauh ini?" Urahara ikut melompat melihat keadaan. "Bisa jadi semakin kuat sejak dia terakhir kali melawan Kurosaki-san..."

"Dia tetap bertambah kuat walau terjebak di Muken?" Renji menggertakkan giginya. "Dasar iblis..."

"Ah, Kalau kursi ini bisa bertahan dari Kurohitsugi, artinya bahannya terbuat dari bahan yang sama dengan Muken." Sahut Aizen santai. "Kursi yang bagus sekali."

"Brengsek..." Teriak Renji. "Dia sengaja!"

"Bukan waktunya ngobrol!" Bentak Sui Feng.
Sang Nibantai Taichou itu kembali merilis bankainya. Memusatkan bankainya pada shakonmaku yang retak.

"Kita harus menghancurkan itu selagi sempat, sebelum bola mata itu muncul lagi" Ucapnya sinis.

"Tak perlu." Ucap Aizen tepat sebelum Sui Feng meluncurkan peluru kendali atas Bankainya.

"Kurohitsugi-ku sudah meretakkan jaring-jaring itu, aku sudah tahu berapa ketebalan reishinya-"

"-Untuk menjatuhkannya, cukup menggunakan reiatsu-ku."
Aizen kembali meningkatkan reiastunya, seakan sang tahanan yang masih tersegel itu punya reiatsu tak terbatas yang mengalir dalam dirinya. Sebuah getaran terjadi, gerbang yang menghubungkan antara Seireite dan Reioukyuu perlahan retak.

"Jangan, Aizen! Gerbangnya!" Bentak Rukia. "Reiatsu yang sudah kita kumpulkan untuk gerbangnya bakal larut!"
Terlambat, gerbang itu telah hancur tak bersisa. Aizen hanya tersenyum tipis.

"Gerbang?" Ejek Aizen. "Kalian tak butuh gerbang. Ada lubang di tembok Reioukyuu, 'kan?"
Dia memandang Rukia, memberikan tatapan remeh.

"Kalau kalian punya urusan di Reioukyuu..." Gumamnya pelan. "Paling tidak biarkan aku menjatuhkannya untuk kalian."

Selanjutnya :  Versi Teks Bleach Chapter 623

Tidak ada komentar:

Posting Komentar